• PERAN CAPUNG SEBAGAI PREDATOR

    Posted on November 24, 2011 by admin in Dragonfly.
    Bambang Feriwibisono 
    (divisi Keanekaragaman Hayati, Dept Litbang-IDS)


    Indonesia adalah negara yang diberi anugerah dengan kekayaan biodiversitas hewan dan tumbuhan yang sangat besar. Kelimpahan dan kekayaan berbagai macam jenis tumbuhan pada suatu area akan menyediakan habitat bagi bermacam-macam jenis hewan sehingga memungkinkan terbentuknya jaring-jaring makanan yang komplek dalam suatu ekosistem.

    Kehadiran berbagai macam jenis serangga dalam ekosistem pertanian merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi keberhasilan/produksi pertanian. Dalam upaya pengendalian hayati, untuk menekan dinamika populasi serangga yang berpotensi sebagai hama pertanian, harus diimbangi dengan hadirnya serangga predator. Salah satu serangga predator yang mempunyai peranan penting dalam menciptakan keseimbangan rantai makanan dan umum dijumpai di area pertanian adalah capung.

    Capung adalah kelompok serangga yang termasuk dalam ordo Odonata, banyak dijumpai di tempat-tempat terbuka yang tidak jauh dari lingkungan perairan dengan intensitas sinar matahari yang cukup, dan suhu yang hangat (250C – 330C). Di  dunia tercatat lebih dari 5500 jenis capung yang sudah teridentifikasi, sedangkan di Indonesia diketahui lebih dari 700 jenis capung yang sudah teridentifikasi.

    Dalam sistem klasifikasi capung dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Sub Ordo Anisoptera (capung besar / Dragonfly) dan  Sub Ordo Zygoptera (capung jarum / Damselfly). Dragonfly adalah kelompok capung dengan ukuran tubuh bervariasi 5 cm – 11 cm. umumnya ditemukan di tempat-tempat terbuka, area persawahan, atau padang rumput dan dikenal dengan kemampuan atraksi terbang dan melakukan manuver dengan kecepatan tinggi. Dragonfly adalah serangga teritorial, capung jantan umumnya mempunyai warna lebih mencolok dari capung betina, sering dijumpai berjemur dibawah terik sinar matahari dengan hinggap pada sebuah ranting dengan kedua sayap terbuka. Kelompok Damselfly  ukuran tubuhnya lebih kecil dengan abdomen ramping memanjang menyerupai jarum, pada saat hinggap kedua sayapnya menutup ke atas. Kelompok capung ini jarang dijumpai di tempat terbuka, terbang dengan kecepatan rendah dan sering berlindung di antara ranting atau dedaunan, menyukai tempat-tempat dengan intensitas sinar matahari yang tidak terlalu terik. Damselfly banyak ditemukan disekitar lingkungan perairan yang jernih di daerah yang terlindung dari sinar matahari diantara ranting dan dedaunan, atau hinggap di antara bebatuan di tepi sungai dengan warna-warna yang kontras, misalnya di tepi aliran sungai di tepi hutan.

    Di balik ketangkasan dan keindahan warnanya capung adalah serangga predator yang rakus baik pada fase nimfa maupun imago, capung juga bersifat kanibalisme terhadap sesama capung. Dengan kaki-kakinya dan rahang yang kuat, serta kecepatan terbang yang tinggi capung dapat menangkap dan memangsa berbagai jenis serangga lain. Kaki-kaki capung pada saat terbang dapat membentuk bangunan seperti jala, sehingga efektif untuk menangkap berbagai macam serangga yang ukuranya lebih kecil seperti lalat dan nyamuk yang sering kali menjadi biang permasalahan dalam dunia kesehatan, serta wereng hama yang umum dijumpai pada area pertanian padi. Bahkan capung juga menjadi ancaman bagi serangga yang ukuran fisiknya lebih besar seperti kupu kupu.


    Dalam dunia pertanian imago capung dikenal sebagai serangga predator yang aktif berburu mangsa dan bersifat polifaga. Capung merupakan serangga musuh alami pada beberapa hama tanaman pangan (padi, jagung, kacang-kacangan) dan perkebunan (teh, kopi, kakao). Pada area tersebut capung merupakan predator bagi beberapa hama di antaranya adalah Nilaparvata lugens, Orseolia orizae, Scotinophora sp., Leptocorisa sp., Ostrinia sp., Helicoverpa sp., Melanogromiza sp., Oxya sp.  

    Capung termasuk dalam kelompok serangga hemimetabola, terdapat tiga tahap perkembangan dalam siklus hidupnya yaitu telur – nimfa – imago (dewasa). Capung dewasa akan meletakan telur-telurnya di lingkungan perairan yang bersih, selanjutnya telur akan menetas menjadi nimfa yang hidup didalam perairan.  Dalam perkembangannya nimfa capung mengalami 9 sampai 17 kali tahap perkembangan. Nimfa capung merupakan predator yang rakus dilingkungan perairan, nimfa muda memakan Protozoa, nimfa nyamuk, Crustacea yang berukuran kecil (Daphnia sp., Cyclops sp.) dan hewan-hewan yang kecil lainnya. Nimfa mengalami perkembangan menjadi semakin besar dan memakan berudu, ikan-ikan kecil, kumbang air, dan nimfa capung dari spesies yang berbeda maupun dari spesies yang sama (kanibalisme).

    Daftar Pustaka

    Bybee, Seth., Dragonflies and Damselflies, Departement of Entomology and Nematology University of Florida, 2005

    Carde,  Ring T., and Resh, Vincent H.,  Encyclopidia of Insects, second edition, Elsevier Inc. 2009

    Corbet, P. S. Dragonflies: Behavior and Ecology of Odonata. New York: Cornell University Press, 1999.

    Dunkle, S. W.,  Dragonflies Through Binoculars: A Field Guide to Dragonflies of North America.,  New York: Oxford University Press, 2000.

    Garrison, Rosser, W., Ellenrieder von Natalia, and Louton, Jerry, A., Dragonfly Genera of The New World, The Johns Hopkins University Press, 2006.

    Hindayana, Dadan., Musuh Alami Hama dan Penyakit Tanaman Kopi dan Teh, Direktorat Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian Jakarta, 2002

    Kartorahardjono, Arifin., dan Trianingsih (2007), Jenis-Jenis Serangga Hama Tanaman Pangan dan Musuh Aalaminya.,  Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang

    K.A.Subramanian  Dragonflies and Damselflies of Peninsular India-A Field Guide,  E-Book of Project Lifescape. Centre for Ecological Sciences, Indian Institue of Science and Indian Academy of Sciences, Bangalore, India. 118 pages. Copyright K.A.Subramanian, 2005.

    Needham, James C., Minter J. Westfall, and Michael L. May.,  Dragonflies of North America. Revised edition. Gainesville, FL: Scientific Publishers, 2000.

    Noertjahyo, J. A., 2010  http://noertjahyo.wordpress.comdiakses pada tanggal 15 Mei 2011

    Odum, P.E.  Dasar-dasar Ekologi. Edisi ketiga, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 1993

    Silsby, J. Dragonflies of the World. Collingwood, Australia: CSIRO Publishing, 2001.

    Susanti, S., Mengenal Capung, Puslitbang Biologi,LIPI, Bandung

    Sutirjo S., Soetiman B, S., Edi W., Aanalisis Keanekaragaman Capung di Sungai Coban Talun dan Coban Rondo Kabupaten Malang, http/wordpress.com, 2005

    Wardani, T.S., Perbandingan Populasi Larva Odonata di Beberapa Sunagai di Pulau Pinang dan Hubunganya Dengan Pengaruh Habitat dan Kualitas, Universitas Sains Malaysia 2007

    Westfall, Minter J. Jr., and Michael L. May. Damselflies of  North America. Gainesville, FL: Scientific Publishers, 1996.

     

One Responseso far.

  1. Ian Wongkar says:

    Kita sering mengabaikan kehadiran organisme di sekitar kita seperti halnya serangga jenis capung ini, semua akibat kurangnya pengetahuan. Trimakasih atas pengamatan disertai foto-foto yang bagus yang diberikan kepada kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>